Kamis, 13 Oktober 2011

Catatan Ringan di Geneva


Coklat Jago vs Coklat Goldkenn
Masih teringat di kenangan masa kecil saya, saat saya masih berseragam warna bendera menatap termenung bungkusan coklat merk Jago yang baru saja saya terima dari kawan ibu saya sepulang saya mengaji di mushola. Betapa senangnya saat itu. Serasa mendapatkan hadiah istimewa! Coklat dengan bungkus merah putih bergambar ayam jago dalam lingkaran merah, memberi kesan sangat berarti buat saya di masa itu. Coklat tersebut menjadi bekal untuk saya berangkat ke sekolah esok harinya. Dan pada saat waktu istirahat sekolah, saya makan coklat itu dengan penuh kebanggaan. (Dasar anak kampung!) :)

Kini, setelah puluhan tahun berlalu tiba-tiba saya teringat kembali kenangan itu. Ingatan itu muncul kembali disaat yang sama, saat mata saya terfokus mengamati sebatang coklat. Tapi bedanya coklat yang saya tatap kali ini bukan coklat bermerk Jago, melainkan coklat dengan merk Goldkenn. Beda lainnya adalah saya bersyukur tidak hanya bisa melihatnya, tapi juga membelinya. Dan istimewanya buat saya adalah saya beruntung bisa membelinya di tempat yang jauh dari kampung halaman saya. Ya, di Geneva, Swistzerland!

Tanpa berpikir panjang, akan saya bawakan coklat Goldkenn ini untuk putri tersayang saya. Semoga kelak dia jauh lebih beruntung lagi dari saya. Amin. :)

Sambil mengunyah coklat Goldkenn yang legit khas coklat-coklat eropa, saya menuliskan sedikit pengalaman saya di kota Geneva. Berikut lebih lengkapnya.


Geneva, Suisse

Kesempatan kembali saya terima untuk mengunjungi kota Geneva. salah satu kota termahal di dunia. Bahkan menurut saya rata-rata harga barang di Geneva lebih mahal daripada saat saya di Paris. Kesamaannya adalah dalam hal transportasi publik. Sangat mudah dan cepat!

Karena perjalanan kali ini adalah perjalanan dinas, saya tidak memerlukan visa schengen (eropa) untuk masuk ke Swiss. Berbeda dengan negara eropa lainnya yang tetap mengharuskan visa schengen untuk masuk ke negara mereka. Jadi perjalanan kali ini tidak perlu disibukkan dengan pengurusan visa.

Dari bandara menggunakan bus umum dengan rute yang sangat mudah di peta saya menuju hotel tempat saya menginap. Auberge du grand saconnex, hotel tempat saya menginap. Tidak mirip sebuah hotel. Justru yang tampak di depan bangunan adalah sebuah restoran tua disudut jalan. Hotel ini saya pilih atas rekomendasi beberapa teman yang pernah menginap di hotel ini. Konsep hotel ini adalah chamres libres alias free room. Semacam sewa apartemen/kamar model studio. Ada dapur kecil di sudut kamar, kamar mandi kecil, kipas angin, televisi LCD, dan berlantaikan kayu. Tidak ada resepsionis, pelayan hotel, maupun security. Semua self service kecuali pembersihan kamar sehari sekali. Soal harga, jelas sangat murah. Hanya 132 CHF per malam (atau sekitar 1, 2 juta rupiah) untuk 2 (dua) orang. Harga tersebut tentu harga diskon dari yang seharusnya 185 CHF. Syaratnya, hanya dengan menyebut tujuan kita di Geneva untuk menghadiri event internasional, hotel tersebut tanpa ragu langsung memberikan diskon khusus. Bandingkan dengan hotel-hotel lain di sini. Rata-rata hotel bintang dua per malamnya adalah diatas 200 CHF.

Tips penting untuk siapapun yang hendak berkunjung di Geneva pertama kali;

  1. Pastikan ambil peta transportasi di Airport pada saat anda mendarat atau searching terlebih dahulu rute-rute yang akan anda kunjungi di kota Geneva sebelum anda berangkat;
  2. Siapkan makanan yang sesuai dengan selera anda karena tidak semua makanan di Geneva sesuai dengan selera orang Indonesia dan yang pasti sangat mahal!;
  3. Pastikan bawa mata uang suisse (CHF) karena tidak mudah menemukan penukaran mata uang di banyak tempat;
  4. Selalu waspada dan jaga diri karena tidak semua orang di Swiss berkarakter baik (pengalaman sahabat saya yang pernah kecopten tas di dalam bis di kota Geneva);

Geneva saya gambarkan seperti perpaduan antara kota Bogor, Bandung, dan Bukit Tinggi. Kebetulan saat itu sedang musim semi. Udara sejuk terasa di setiap persimpangan jalanan kota, dengan jalanan yang bersih, warga yang ramah, dan suasana yang tenang, Geneva menyajikan suasana khas kota kecil eropa. Sengaja saya memilih daerah le grand saconnex karena daerah ini sangat tenang, tidak bising kendaraan, dan kurang dari 5 menit menuju bandara, serta tidak lebih dari 15 menit ke pusat kota Geneva.

Tahukah anda jika Geneva bukan ibu kota Swiss?Ibukota Swiss adalah Bern! :)

Apa ciri khas kota Geneva?
Danau Lacman yang terletak di pinggir kota dnegan air mancur setinggi kira-kira 60 meter menjadi "Monas" nya kota Geneva. Pinggiran danau dibuat jalan kecil yang melingkari seluruh danau dan bertepi di Mont Blanc, sebuah port yang didominasi kapal-kapal kecil yang bersandar di tepian danau. Di depan danau menuju port terdapat taman dengan pohon-pohon yang rindang dihiasi kursi taman gaya eropa yang hampir semuanya penuh diisi oleh para manula dan pelancong yang mengistirahatkan sejenak kakinya setelah memutari danau. Suasana khas eropa!

Ciri khas lain kota Geneva adalah banyaknya gedung-gedung organisasi internasional seperti gedung markas PBB, UNCITRAL, WHO, ILO, UNHCR, markas palang merah internasional, organisasi telekomunikasi internasional (ITU), dan masih banyak lagi. Ciri lainnya adalah gedung-gedung tua khas peninggalan eropa pada masa lalu. Tidak perlu saya sebutkan karena sangat banyak sekali yang membuat saya terkesan (duh, betapa kampungnya saya). :)
Salah satu sudut Kota Geneva dalam jepretan kamera saya
Transportasi
Di kota Geneva, transportasi publik sangat nyaman. Kita bisa menggunakan pilihan bus, tramp (sejenis kereta yang beroperasi di jalan raya dengan rel tersendiri), atau kereta jika jaraknya cukup jauh. Jika anda menginap di hotel, biasanya hotel akan memberikan kartu bebas transportasi di Geneva selama kita menginap. Dengan kartu itu kita bisa menggunakan sarana transportasi publik secara gratis di kota Geneva.

Kawan saya yang tidak mendapat kartu transportasi publik Geneva karena menginap di Wisma milik kedutaan RI harus menghabiskan lebih dari 30 CHF per hari untuk membeli tiket bus atau tramp. Jelas sangat mahal.

Kartu transportasi tersebut hanya berlaku di dalam kota Geneva. Sedangkan jika kita hendak mengunjungi kota-kota lain di Swiss seperti Zurich, Bern, Olten, atau Aarau, kita harus membeli secara terpisah tiket menuju kota-kota tersebut.

Sedikit saya cerita pengalaman saya ke Zurich, Bern, dan beberapa kota lain di Swiss menggunakan kereta. Untuk membeli tiket kereta, kita bisa datang langsung ke stasiun. Untuk tarifnya bisa sangat mahal dan bisa juga tidak terlalu mahal tergantung paket transportasi yang kita gunakan. Kita bisa membeli paket transportasi untuk 1 hari perjalanan bebas seharga kira-kira 90-an CHF dihari-hari tertentu atau bisa juga paket 3 hari perjalanan bebas seharga 216 CHF. Namun, jika kita hanya membeli tiket pulang pergi, tarif yang dikenakan adalah sebesar 164 CHF. Kita bisa tentukan sendiri paket mana yang kita gunakan.

Tips terpenting sebelum kita menggunakan kereta antar kota di Swiss adalah kita harus pelajari rute yang akan kita tuju. kita bisa cek jadwal kereta melalui web site cff.ch (sayangnya web site ini berbahasa perancis). Alternatif lain kita bisa datang ke stasiun dan melihat jadwal keberangkatan kereta tiap jamnya. Sebelum memutuskan menggunakan kereta, kita harus tentukan dulu stasiun-stasiun yang menjadi kunci perpindahan tiap kereta di Swiss. Ternyata, tidak sulit jika kita mencoba dan mau membaca kawan!
Stasiun Sconenwerd, kampung tempat sepatu Bally diproduksi 


Makanan
Makanan adalah soal selera. tidak heran ada pernyataan yang menyebutkan "hanya orang bodoh yang mempermasalahkan selera makanan..". Setuju! Sebagian makanan di kota Geneva tidak jauh berbeda dengan makanan di negara eropa lainnya. Didominasi oleh roti, salad, ikan, dan keju menjadi ciri khas makanan di sini. Saya bukan penggemar makanan eropa. Meskpiun beberapa diantaranya masih bisa saya makan. Mungkin karena lidah saya masih lidah kampung membuat saya sulit untuk menerima kenyataan bahwa makan roti itu bisa menggantikan makan nasi. Alhasil tetap tersugesti lapar meskipun sudah makan sepotong roti keju dan segelas susu segar.

Untungnya dari Indonesia, perbekalan makanan sudah saya siapkan. Tidak tanggung-tanggung, sekilo beras, sebungkus rendang, ikan asin, bandrek, sambal teri, dan yang pasti mie instan indom** saya bawa. Tak lupa kompor listrik, piring, dan sendok saya bawa. Berat memang, tapi sebanding dengan kenikmatan yang saya dapatkan selama 15 (lima belas) hari di kota Geneva. Jika makan di cafetaria atau rumah makan di kota Geneva, minimal saya harus mengeluarkan 22 CHF sekali makan atau 200 ribu rupiah. Dengan modal 200 ribu tersebut saya bisa membeli seluruh bahan dari 'perbekalan' yang saya bawa. Bayangkan berapa yang saya hemat? (sambil tersenyum menarik bibir ke atas). :D

Untuk membeli bahan makanan, kita cukup datang ke swalayan Migros bisa menggunakan bus yang terletak di Baulacre, 2 pemberhentian bus setelah pemberhentian Nations menuju Gare Cornavin. Atau ada juga yang terletak di ujung jalan rue de confederation seberang danau Lacman. Apa yang kita cari untuk masak cukup lengkap, mulai dari beras, minyak, gula, garam, telur, bahkan sayuran. Soal harga jelas lebih murah daripada swalayan Manor dipusat kota dekat stasiun. Jika malas memasak,nasi goreng instan cita rasa asia juga tersedia di Migros. Cukup panaskan ulang dengan microwave yang tersedia di swalayan tersebut, lalu nikmati saja hingga habis tak bersisa. Soal rasa? "No comment". :P 

Karena perbekalan saya sudah cukup banyak, perbekalan tambahan yang harus saya beli di Geneva hanya sabun cuci piring, kanvas untuk cuci piring, dan beberapa macam sayuran serta buah segar. Total semuanya tidak lebih dari 30 CHF selama saya di geneva. Catatan penting; harga anggur di sini sangat murah, anggur red globe seharga kurang dari 2 CHF per kilonya atau hanya skitar 15 ribu rupiah perikat. Bandingkan dengan harga di Indonesia yang mencapai 55 ribu rupiah sampai 65 ribu rupiah per ikat!

Belanja
Belanja menjadi menu wajib bagi pelancong. Apalagi bagi yang baru pertama kali mengunjungi kota Geneva. Tapi sayangnya saya bukan peminat belanja. Tapi bukan berarti saya tidak tahu dimana tempat belanja murah di Geneva.

S.A.F.I, nama sebuah 'koperasi' milik markas besar PBB di seberang halte Nations menjadi pilihan utama belanja murah. Harga yang ada banyak yang diskon. Barang-barang yang dijual juga sangat lengkap. Mulai dari parfum-parfum khas eropa, jam tangan swiss made, souvenir, kaos, makanan, dan masih banyak lagi. Tidak diragukan lagi S.A.F.I menjadi salah satu tempat termurah untuk belanja oleh-oleh. Untuk masuk ke markas PBB saya sarankan sebaiknya jangan membawa tas, karena jika kedapatan membawa tas maka pengunjung harus melalui pintu utama untuk pemeriksaan tas yang letaknya cukup jauh dari jalan protokol. Cukup bawa dompet dan keperluan lain yang mudah dibawa tanpa tas.

Tempat lainnya adalah di wilayah sekitar Gare Cornavin. Untk belanja disini, kita harus tahu betul mana toko yang murah dan mana toko yang mahal. Sebagian besar toko disini adalah toko yang berharga mahal. Hanya ada beberapa toko yang sedikit lebih murah. Itupun hanya berjualan souvenir khas Swiss seperti pertokoan kaki lima di sepanjang danau Lacman.
Kaki lima di sepanjang danau Lacman

Tempat lain untuk belanja adalah kawasan rue de confederation. Sepanjang jalan tersebut berdiri bermacam-macam toko yang menjual beraneka macam tas, jam tangan, elektronik, baju, dan lain-lain. Soal harga?relatif. Jika beruntung kita bisa dapatkan harga discount, meskipun pada umumnya jarang ada discount di pertokoan jalan ini.

Mau barang berkelas dengan merk-merk ternama?datang saja ke rue de rhone. Kawasan pertokoan dengan barang-barang branded dunia. Mulai dari jam tangan segala macam merk terkenal, tas, sepatu, dan fashion. Cukup lengkap!Soal harga?jelas sangat mahal. Bagi yang tidak memiliki banyak budget mencukupi seperti saya, cukup melihat etalase toko sambil membayangkan diri mengenakan setelan jas Prada, memakai jam tangan Rolex dengan bersepatukan Bally dan membawa tas handbag Longchamp?  :)
Salah seorang pengemis di kawasan elit Rue De Confederation


Lalu apa oleh-oleh yang saya pilih?
Selain oleh-oleh wajib menurut saya seperti coklat dan souvenir kecil (gantungan kunci, magnet kulkas, hiasan dinding, kaos, dll), saya memutuskan untuk membeli pisau berbahan keramik. Bukan logam seperti pisau pada umumnya di Indonesia. Harganya relatif terjangkau, tidak lebih dari 10 CHF per buah. Selain pisau keramik, pisau yang saya beli adalah pisau merk Victor**ox. Kualitas pisau tersebut sangat bagus. Logam dan ketajamannya sangat mengesankan saya. Harga juga tidak terlalu mahal. Berkisar 30-70 CHF untuk pisau ukuran sedang. Lumayan untuk oleh-oleh ibu-ibu arisan tetangga di sebelah-sebelah rumah. Dijamin tahan puluhan tahun. :)

Selain coklat, souvenir, dan pisau, pilihan yang paling memenuhi budget adalah membeli tas bermerk dengan catatan; wajib discount! Dengan sedikit berputar-putar selama beberapa hari, akhirnya ditemukan juga toko yang menjual tas bermerk dengan discount istimewa. Bukan di sekitar pusat kota, melainkan di Airport Geneva.

Sekedar catatan, toko-toko pada hari minggu di kota Geneva sebagian besar tutup. Pilihan warga Geneva untuk belanja di hari minggu adalah belanja di Airport karena tidak pernah tutup setiap harinya. Harganya pun tidak semahal yang dibayangkan. Bahkan banyak juga item yang lebih murah jika kita belanja di Airport dibanding kita belanja di pusat Kota Geneva. Monggo mampir!


Jam Tangan
Mitos Jika beranggapan bahwa jam tangan di Swiss lebih murah daripada di negara lain. Salah besar! Harga jam di Geneva sangat bervariasi. Biasanya harga termurah berada di kisaran rata-rata 150 CHF atau sekitar 1, 3 jutaan rupiah. Sementara harga rata-rata jam yang menurut saya bagus adalah diatas 300 CHF atau sekitar 2, 8 juta rupiah. Dan bagi yang berkantong tebal, pilihan paling cocok adalah jam-jam yang sangat futuristik seharga lebih dari 1000 CHF atau diatas 10 juta rupiah. Wow!

Tapi kawan saya dari Indonesia termasuk beruntung, dengan usaha keras mengitari kawasan pertokoan, kawan saya bisa mendapatkan jam tangan merk yang cukup dikenal di indonesia dengan separuh harga, kurang dari 100 CHF. Tentu toko yang dipilih adalah toko kecil di antara toko-toko jam besar yang menawarkan potongan harga.

Di pusat kota Geneva (Gare Cornavin) terdapat ratusan bahkan mungkin lebih dari 1000 toko jam dengan berbagai merk terkenal di dunia. Hampir semua merk jam terkenal ada disini. Tidak heran, jam tangan menjadi ciri khas oleh-oleh dari Swiss. Meskipun harganya tidaklah murah. Masih tertarik belanja?

Tarif Komunikasi
Untuk berkomunikasi dengan sanak famili di Indonesia, saya menggunakan pilihan skype. telepon berbasis internet tersebut saya menilai jauh sangat murah dibanding tetap menggunakan telepon operator Indonesia di Geneva. Jika telepon menggunakan operator telekomunikasi di Indonesia tarif yang dikenakan adalah sebesar Rp40 ribu rupiah per menit. Demikian halnya jika kita menerima telepon, tarifnya Rp40 ribu rupiah per menit. Dengan menggunakan skype, saya hanya membayar 0,12 Euro per menit untuk menelpon ke operator GSM di Indonesia, 0,07 Euro per menit untuk menelpon ke telepon rumah di Indonesia, dan 0,11 Euro untuk tarif 1 kali sms yang saya kirim ke nomer GSM di Indonesia. Jelas sangat murah!

Tapi ada alternatif lain, kita bisa menggunakan telepon dari operator lokal di Swiss yaitu; Lebara. Kawan saya yang menggunakan operator tersebut mengatakan untuk menelpon beberapa menit ke Indonesia, biaya yang dibayar tidak lebih dari Rp10 ribu rupiah jika di kurs kan ke dalam rupiah. Meskipun, jelas lebih murah skype menurut hitungan saya. Apalagi jika keluarga atau sahabat kita sama-sama menggunakan skype. Telepon bisa gratis!

Warga dan Bahasa
Jika saya perhatikan baik-baik, kebanyakan warga Geneva adalah pendatang. Geneva kota yang multiras dan multikultur. Ada 'bule', kulit hitam, warga china, warga jepang, pendatang dari daerah latin semuanya berkumpul menjadi satu di keramaian kota. Tidak ada diskriminasi ras dan agama. Jika kita amati benar-benar, maka jangan heran warga Asia terbanyak di Geneva adalah warga Jepang. Banyak perempuan berjilbab di sepanjang jalan saya lewati di Kota Geneva. Meskipun selama saya di Geneva belum pernah menemukan masjid. Tapi sifat terbuka warga Geneva menjadi pandangan positif buat saya.

Untuk bahasa, warga Geneva kebanyakan menggunakan bahasa Perancis sebagai basic bahasa percakapan sehari-hari, Namun untuk kaum berpendidikan dan layanan publik, banyak juga yang bisa berbahasa inggris. Jadi tidak perlu khawatir jika kita hanya menguasai bahasa inggris, bahkan jika bahasa inggris kita pasif sekalipun. Minimal kita tahu hitungan angka dalam bahasa inggris, maka kita bisa berkunjung ke Geneva! :)

Bahasa inggris saya pun sebenarnya sangat biasa saja. Saya menyebutnya Jungle English. Tak disangka dengan bahasa inggris seperti itu, saya bisa berkomunikasi lancar dengan warga Geneva, bahkan dengan teman apartemen saya yang berkebangsaan Amerika saya bisa asyik bercanda bermodalkan jungle english saya (meskipun tidak jarang sambil membuka kamus di handphone Android saya). Namanya juga belajar! :)


Ini saja dulu yang bisa saya tulis kawan. Saya pasti update jika ada sesuatu yang penting dan lupa saya informasikan. Saya bukan penulis aktif, apalagi penulis bidang traveling. Tulisan ini saya buat karena minimnya referensi hidup dan perjalanan di kota Geneva. Dan jika ada kesempatan, saya akan tuliskan pengalaman saya mengunjungi beberapa negara lain. Semoga tulisan ini memberi manfaat untuk siapapun pembacanya!

Baca catatan saya berikutnya di: Sudut Lain Geneva

Teguh Arifiyadi

2 komentar:

Dessy Meiga mengatakan...

Salam, halo mas Teguh salam kenal. Tulisannya tentang catatan Ringan Digeneva informatif sekali mas :)

Dessy Meiga mengatakan...

Kebetulan ada Training yang ingin saya ikuti di Geneva mas, Mohon bantuan sekiranya mas Teguh jika berkenan untuk membantu dengan menjawab pertanyaan dari saya:)

1. bagaimana syarat yang harus dipenuhi jika kunjungan saya ke Geneva dalam rangka akan mengikuti Training yang saya ajukan ke kantor dimana tempat saya bekerja?

untuk sementara itu saja mas teguh, smg berkenan untuk menjawab. salam :)