Minggu, 30 Agustus 2015

Full Time Mom vs Half Time Mom; Prespektif Laki-Laki


Asiik, akhirnya saya bisa ikut-ikutan menulis kontroversi antara Ibu yang bekerja di luar rumah dan Ibu Rumah Tangga yang bekerja sepenuhnya untuk rumah. Saya tidak menggunakan istilah working mom untuk ibu yang bekerja di luar rumah. Bukan apa-apa, ibu rumah tangga juga pasti ibu pekerja (working  mom), hanya bedanya ibu rumah tangga bekerja penuh untuk urusan rumah tangga.

Saya menulis ini bukan karena niat memihak salah satunya. Lha, ibu saya adalah Half Time Mom, dan istri saya adalah Full Time Mom. Saya mencoba menyajikan tulisan ini dalam prespektif saya sebagai seorang anak yang ibunya adalah half Time Mom, dan seorang suami yang istrinya Full Time Mom.

Saya tidak tertarik untuk mengulas dari prespektif hukum agama, karena sudah banyak diulas para pakarnya. Saya juga tidak tertarik mengulas dari sisi parenting karena saya tidak punya keahlian di bidang tersebut. Saya mengulas dari sudut pandang diri saya sendiri dengan kondisi dan situasi yang dialami sendiri yang pasti berbeda dengan kondisi dan situasi orang lain.

--------------------------------
Pukul 09.30 WIB bulan Agustus tahun 2010, istri saya tiba-tiba meminta saya menemuinya di kantornya. Segera saya berangkat menuju gedung tempat istri saya bekerja. Setiba disana, saya lihat istri saya diam sejenak dan kemudian berbicara  sangat serius.

Istri saya bilang "saya sudah yakin dan mantap, saya mau berhenti dari pekerjaan saya…surat pengunduran diri sudah saya buat dan sudah saya serahkan ke pimpinan kantor..". Saya sangat kaget namun berpura-pura tenang, karena sehari sebelumnya tidak ada pembicaraan sedikitpun soal rencana berhenti kerja. Rencana berhenti bekerja hanya menjadi topik obrolan yang tidak pernah direncanakan waktu dan momentumnya.

Saya balik bertanya: "apa kamu sudah yakin berhenti bekerja?apa alasan kamu?kamu sudah hubungi orang tuan kamu soal rencana berhenti bekerja?" Istri saya dengan mantap menjawab bahwa alasannya berhenti bekerja adalah semata mengurus anak. Istri saya sudah menghubungi orang tuanya dan sudah dipastikan orang tuanya keberatan dengan rencana tersebut mengingat istri saya sudah disekolahkan sampai S2 dan secara akademis juga sangat bagus. Tapi istri saya kembali menegaskan, setuju atau tidak setujunya orang tua, istri saya t├Ąta pada keyakinannya untuk berhenti bekerja di kantor apapun yang terjadi.

Rupanya kantor istri saya juga tidak begitu saja melepas dan menyetujui keputusan resign tersebut, istri saya harus bolak balik berkali-kali ditanya hal yang sama tentang alasan berhenti bekerja. Atasan istri saya mengatakan kalau kinerja istri saya di kantor terbilang cukup bagus. Dari sisi karir juga sangat potensial. Tapi semua itu tetap di abaikan oleh istri saya, istri saya sudah yakin akan keputusannya.

Lalu bagaimana dengan saya?
Saya sebetulnya kaget dan perasaan bercampur aduk. Saya TIDAK PERNAH sekalipun meminta istri saya berhenti bekerja sebelumnya. Saya juga tidak pernah sekalipun mempengaruhi istri saya dengan dalih agama agar istri saya berhenti bekerja, tapi Tuhan punya rencana lain.

Wajar sebagai seorang laki-laki, ada perasaan was was apakah mampu saya mencukupi kebutuhan rumah tangga mengingat ketika saya dan istri saya berdua bekerjapun, secara ekonomi Alhamdulillah kami hidup biasa saja.  Bagaimana jika saya bekerja sendiri?

Singkat kata akhirnya istri saya berhenti bekerja, dan full time mengurus anak dan rumah. Saya tetap bekerja dan kehidupan ekonomi juga tercukupi bahkan bisa sedikit menabung dengan saya yang bekerja seorang diri.

Perasaan saya sudah mulai damai, saya bekerja lebih tenang karena anak setiap hari dirawat dan dijaga istri saya (bukan lagi asisten rumah tangga). Bahkan asisten rumah tangga kamipun kami berhentikan, dan urusan rumah yang sangat berat dan ribet dipegang sepenuhnya oleh istri. Saya hanya asisten bantuan bahkan seringnya jadi pemain cadangan untuk urusan bersih-bersih rumah dan tetek bengeknya.

Kami akhirnya membuktikan sendiri jika mengurus rumah dan anak jauh lebih sulit daripada sekedar menyelesaikan pekerjaan kantor. Bekerja mengurus rumah dan anak penuh dengan tantangan, ujian kesabaran, dan berat secara fisik maupun psikologis. Tanggung jawabnyapun tidak kalah besarnya dengan kerjaan di kantor.

Saya berikan apresiasi untuk ibu rumah tangga yang konsisten mengurus rumah dan anak dengan baik. Dan saya akan berikan apresiasi lebih luar biasa lagi jika ada seorang ibu yang sukses bekerja di kantor, namun konsisten mengurus rumah dan anak dengan kualitas baik selayaknya Full Time Mom. Jika benar itu ada, artinya negara ini akan menjadi negara maju karena para wanitanya bisa berperan sebagai pekerja berdedikasi tinggi sekaligus ibu yang hebat bagi anaknya.

Jika ada jargon : "if you get what you want, you will lose what you have..", maka dengan kondisi diatas jargon ini sudah tidak layak lagi ada. Artinya Half Time Mom bisa menjadi karyawan dan ibu hebat diwaktu yang bersamaan. Jargonnya akan berubah menjadi "nothing will lose if I get what I want..".

Dedikasi Kerja Seorang Perempuan
Benarkah perempuan tidak perlu menjadi karyawan hebat berdedikasi tinggi asalkan anak tetap terurus dengan baik?

Buat saya bekerja dimanapun harus memiliki dedikasi yang tinggi, entah perempuan ataupun laki-laki. Dedikasi adalah komitmen setiap orang yang berniat bekerja. Jika seorang perempuan bekerja hanya sekedar eksistensi bisa berkumpul dengan sesama perempuan pekerja lain, lebih baik tidak usah bekerja. Lebih baik perempuan tersebut menunjukan eksistensinya untuk merawat anak atau suami di rumah.

Namun tak kalah pentingnya adalah, dedikasi perempuan yang bekerja tidak boleh sedikitpun mengalahkan komitmen dan kewajiban menjadi seorang ibu. Jika anak membutuhkan ibunya dengan alasan apapun (bukan hanya karena anak sakit), maka semua pekerjaan kantor sudah selayaknya di abaikan sementara. Dan jika anak terus-terusan atau sering membutuhkan ibunya di rumah atau bahkan meminta ibunya berhenti bekerja, buat saya, jika keluarganya tidak memiliki kefakiran ekonomi, maka 'wajib' hukumnya si ibu untuk berhenti bekerja!!!

Prespektif saya di masa kecil sebagai Anak yang Ibunya adalah Half Time Mom
Sejak kecil bahkan sejak saya masih bayi, ibu saya bekerja di kantor setiap harinya. Saya senang ketika ibu saya pulang kantor lebih cepat, saya senang ketika ibu saya tidak masuk kantor, saya senang jika diajak ke kantor Ibu saya, saya senang jika ibu saya memilih mengajak saya piknik ke pantai daripada masuk kantor, saya senang jika ibu saya membawahkan buah tangan sepulang dari kantor.

Saya kecil belum cukup paham akan pentingnya ekonomi keluarga yang juga ditopang dari pendapatan seorang ibu, saya belum paham tentang alasan membantu membahagiakan anak dengan materi yang cukup. Saya kecil belum paham bahwa meteri yang dihasilkan ibu saya membantu saya membayar biaya pendidikan saya hingga jenjang universitas.

Saya yang masih anak-anak tidak akan memahami cerita detail ibu tentang alasan memilih bekerja. Seorang anak terlalu lugu untuk mendengar alasan ekonomi ibunya bekerja. Anak tidak juga akan paham bahwa tugas mencari nafkah menjadi tanggung jawab penuh ayahnya sebagaimana dalil agama yang sering diulas para pakar.Yang anak-anak paham, anak mau ada ibu yang masakin dan menemaninya di rumah. Silahkan tarik kesimpulan dari kesenangan dan ketidakpahaman saya di waktu kecil.

Prespektif saya Sebagai Suami yang Istrinya adalah Full Time Mom
Keren dan salut untuk istri saya yang memilih mengurus anak dan rumah. Saya tenang dengan keberadaan istri saya yang dekat dengan anak. Meskipun tidak ada jaminan bahwa anak akan menjadi lebih baik di masa depannya jika dirawat langsung oleh ibunya, tapi sudah menjadi ikhtiar istri saya untuk memberikan yang terbaik buat sang anak.

Meski demikian, saya tetap menghormati seorang perempuan yang memilih bekerja. Terlebih alasannya adalah kebutuhan ekonomi yang memang belum mampu suaminya berikan. Atau alasan lain adalah karena pekerjaan tersebut memang sebaiknya dilakukan oleh seorang wanita, misalnya menjadi bidan, dokter atau guru khusus bagi sesama perempuan lainnya.

Yang kurang enak untuk dilihat dari fenomena media sosial saat ini adalah banyaknya ribuan alasan pembenaran dari seorang Half Time Mom untuk bekerja. Padahal tanpa harus mengemukakan data, alasan dari sebagian mereka yang bekerja adalah eksistensi dan manjadi wanita yang sukses berkarir. Tapi faktanya alasan mencari pendapatan lebih untuk pendidikan anak yang selalu dikambinghitamkan, atau alasan membantu nafkah suami dan mendapatkan pahala selalu di tampilkan. Ada ribuan alasan lain yang terkadang absurd. Wajar jika ada celetukan yang mengatakan "Jangan jadikan anak sebagai alasan ibu bekerja di luar rumah, tapi jadikan anak sebagai alasan ibu untuk selalu dirumah".

Tanya hati nurani mereka, maka mereka akan menemukan apa alasan mereka bekerja. Karena hati nurani adalah kejujuran sejati.

Apapun pilihan seorang perempuan untuk bekerja di luar rumah atau full time di rumah tidak menjadi persoalan. Setiap perempuan dan keluarga punya situasi dan kondisi yang berbeda. tolak ukur benar salahnya selain dalil agama, adalah hati nurani. Trust it!

Buat perempuan yang memilih bekerja di luar rumah, bekerjalah dengan dedikasi tinggi namun ingatlah kewajiban utamamu. Jangan pernah berpikir sedikitpun bahwa jika seorang perempuan yang bekerja penuh waktu di rumah tidak sepintar atau setinggi derajat Anda yang bekerja di kantoran. Banyak dari mereka yang jauh lebih pintar dari Anda, namun memilih mengikuti kata hati terdalam.

Bagi perempuan yang memilih di rumah untuk merawat anak dan mengurus rumah, berikanlah yang terbaik untuk anak dan rumahmu, karena sejelek-jelek upaya terbaik adalah bagian dari ikhtiar yang wajib dilakukan! Hormatilah kawanmu yang memilih untuk bekerja, karena kita tidak pernah benar-benar tau situasi dan kondisi mereka.

Berbeda pendapat boleh saja kan? :)





1 komentar:

kompetisiwu mengatakan...

Subhanalah....... Tulisan yang sangat luar biasa berharga, semoga bia menjadi inspirasi bagi banyak keluarga lainnya. Semoga keluarga anda semakin bahagia semakin dimudahkan rezekinya. Ini mungkin buah dari kesabaran dan keshalihan anda, dan insya Allah istri anda menjadi ahli surga dan bisa mengajak anda dan anak-anaknya untuk berkumpul di surga-Nya kelak, aamiin yaa rabbal 'alamin