Selasa, 23 Juni 2015

Wisuda Kelulusan TK

Ini cerita nyata, bukan novel atau fiksi imajinasi saya.

Menghadiri acara wisuda kelulusan anak TK tampaknya memang bukan prioritas bagi setiap orang tua khususnya untuk seorang Ayah. Lha wong masih TK aja sudah pake wisuda-wisudaan, gak penting-penting amat bagi sebagian orang (mungkin). Tapi tak apalah, saya tetap akan sempatkan waktu khusus untuk menghadiri wisuda TK putri saya Ghefira Mahadewi AEA minggu lalu di Taman Bunga Mekar Sari Bogor.

Dan benar saja, di hari wisuda tersebut, dari sekitar 80 siswa/siswi TK yang ikut acara wisuda, kurang dari 10 anak yang didampingi kedua orang tua (ayah dan ibu). Kebanyakan cukup diwakili oleh Ibu dan terkadang membawa sang Asisten Rumah tangga (ART).

Yang membuat saya terkejut adalah terdapat 1 orang siswi TK yang tidak didampingi oleh Bapak/Ibu nya. Menurut ibu guru TK yang menjadi wali kelasnya, ibu nya menitipkan anak tersebut karena ibu dan ayahnya ada pekerjaan kantor yang tidak bisa ditinggal (penyebeb seperti biasanya kata sang guru).

Tibalah saat seremoni acara kelulusan, terdengar bersemangat anak-anak TK menyanyikan lagu "terima kasih guru" dan lagu "ibu". Alunan musik diiringi kekompakan ala anak TK turut membawa suasana haru, lucu, senang dan bangga terhadap kelulusan anak.

Selesai menyanyikan kedua lagu tersebut, anak-anak diberikan bunga mawar kertas dan sepucuk surat yang sudah mereka buat beberapa hari sebelumnya di kelas. Bunga mawar kertas berwarna merah dan surat tersebut disebutkan oleh pembawa acara akan diserahkan kepada ibu wali murid sebagai ungkapan terima kasih.

Alhasil suasana semakin tambah haru, satu persatu ibu wali murid maju dan menerima bunga mawar kertas merah dan surat dari karya tangan anak-anak.

Dari sudut panggung belakang, saya mengamati anak yang tidak didampingi kedua orang tuanya tersebut. Sang anak terlihat bingung dan panik. Matanya melirik kesana-kemari sambil terlihat berkaca-kaca. Dia mencari siapa yang bisa menerima bunga mawar merah kertas dan secarik surat hasil kreativitasnya.

Kemudian dengan suara agak lirih sang anak memanggil wali kelasnya. Wali kelasnya yang sadar akan situasi tersebut berusaha menenangkan sang anak sambil mengatakan bahwa bunga dan surat tersebut cukup diberikan kepadanya sebagai pengganti orang tua.

Begitu nama anak dipanggil untuk maju memberikan bunga, dengan sigap ibu guru wali kelasnya maju ke panggung dan menerima bunga dan surat tersebut. Ibu guru tersenyum sedikit kepada sang anak, sang anak terlihat senang. Ibu guru tersebut segera berbalik muka, menjauhi panggung sambil saya lihat mata sang guru berlinang dan menahan sedih sampai sesenggukan.

Saya tidak mampu bicara. Diam melihat pemandangan tersebut.

Hikmah buat saya atas peristiwa tersebut:

"Sehebat apapun karir kita di kantor tidak ada artinya jika kita melihat anak kita bersedih dan menangis mencari kita disaat mereka butuhkan.

"Jangan pernah mencari waktu luang untuk bersama anak, tapi selalu luangkan waktu untuk mereka".

Tidak ada komentar: