Minggu, 21 Juni 2015

(Mau) Menggugat Peran Alumnus Pondok di Media Sosial

Hastag #ayomondok beberapa waktu boleh jadi hastag populer yang berusaha membangkitkan gairah anak-anak muda dan orang tua untuk mendidik putra-putri mereka ke pesantren. Saking populernya, voaislam.com menyebutnya (atau lebih tepatnya) memfitnahnya sebagai bagian dari propaganda JIL.

Wajar jika Arman Dhani dkk dari suku mojok.co melancarkan pujian serangan balik ala Real Madrid terhadap para penyinyir gerakan #ayomondok. Bagaimana tidak, ini bukan perkara propaganda atau pencitraan, gerakan #ayomondok terlihat terstruktur, sistematis dan masif  (rumus kecurangan pemilu) membuat senewen jamaah gerakan anti-antian (anti JIL, syiah, wahyudi, reumason).

Bagaimana tidak terstruktur sistematis dan masif, gerakan #ayomondok yang diinisiasi oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) Jawa Timur yang kemudian disosialisasikan Gus Rozien (KH Abdul Ghaffar Rozien) dan didukung banyak elemen pesantren dan Nahdhatul Ulama (NU) terlihat gaungnya sampai menjadi hot topic media sosial.

‘Sayangnya’ individu yang dianggap JIL turut mengkampanyekan gerakan #ayomondok tersebut, walhasil gerakan yang didukung banyak tokoh agama ini seolah terlihat buatan JIL dengan propaganda dan pencitraan. Pemikiran sempit ala jamaah anti-antian!

Lupakan isu diatas. Katakan gerakan #ayomondok berhasil membius anak muda dan orang tua untuk membawa anaknya ke pesantren, terus kalau sudah lulus pesantren mau ngapain? Bisa apa Antum?

Lulusan pesantren tidak semuanya pintar dan sukses lho, yang jadi penjahat juga ada,  yang lontang lantung gak ada kerjaan juga tidak sedikit, yang akhlaknya tidak karimah juga seabrek-abrek, yang tidak lagi ngaji dan sholat juga banyak, yang pura-pura lupa pernah nyantri juga bertebaran. Ah pokoknya tidak sehebat cerita dalam novel “negeri 5 menara” karya Ahmad Fuadi. Konsep man jadda wajadda yang diingat hanya sebagai tempelan kertas buram dengan lem glukol di lemari santri baru.

Saya kok melihat masih bagusan akhlak ikhwan-ikhwan yang berjenggot panjang dan bercelana congkrang di kampus-kampus umum, masih lebih santun bahasanya akhwat-akhwat bercadar di emperan masjid kampus. Masih lebih sejuk bahasanya para murobbi yang sedang mengajar bab muamalah. Ada sih sedikit dari mereka yang beragama dengan modal penampilan doang (beragama dengan berganti casing), tapi itu kan hanya ‘oknum’, gak baik ah men-generalisir.

Lalu apa bagusnya lulusan pesantren? Di pesantren katanya diajarkan kalau sebaik-baik ilmu itu adalah ilmu yang diamalkan. Nyatanya, banyak ‘kiayi idol’ gak mudeng hukum fiqh dan menafsirkan seenak otaknya sendiri, toh orang-orang ex-pondok yang ngerti banyak yang diam saja tuh. Banyak #mendadakUstadz memperlakukan dalil dengan tidak adil dan digunakan serampangan tanpa melihat kontekstualitas, toh para mantan santri hanya bisa senyum tipis dan nyiyir melihat ulah mereka. Banyak agama dijual untuk komoditas politik dan memecah belah umat kok ya gak diingatkan. Lalu dimana kalian wahai akhie?

Jangan-jangan kalian sedang asyik sendiri menuliskan kharakat di kitab gundul sampai lupa sekeliling, jangan-jangan kalian sibuk jualan batu akik urusan dunia yang katanya hanya sementara. Atau jangan-jangan kalian sedang mengamalkan sifat tawadhu (rendah hati) yang diajarkan para mbah kyai di pesantren. Atau jangan-jangan kalian memiliki sifat warai (sangat hati-hati) untuk sekedar menafsirkan hukum fiqh yang diperdebatkan.

Wajar jika gus Mus dalam ceramahnya di kampus UIN Walisongo (Maret 2015) mengatakan kalau teknologi informasi di media online dan media sosial justru dikuasai oleh kelompok-kelompok yang tak memahami dan menguasai agama secara mendalam.

Kalau yang sering tampil di media online dan media sosial orang-orang islam yang gak memahami agama, islam jadi terkesan menakutkan, bahkan sampai disebut radikal. Wajar kalau ada yang bilang islam itu indah tapi indahnya islam ditutupi oleh orang islam itu sendiri, islam itu mudah, tapi justru jadi terlihat sulit oleh orang-orang islam itu sendiri.

Lha kalian para alumnus kaum sarungan yang sudah khatam dan lebih mudeng Al-Quran-Hadist serta ratusan kitab kuning memilih ‘sembunyi’ dari di media online dan media sosial.

Jangan bilang karena media sosial yang katanya bikinannya yahudi dan nasrani, kalian jadi menghindar menggunakan media sosial (tapi tetap pake henpon bikinan tiongkok yang justru buatan kaum atheis). Jangan bilang juga menggunakan internet itu bid’ah karena tidak ada di zaman Rasulullah (tapi tetap nonton tivi sambil pegang kitab kuning).

Saya sih berbaik sangka saja, kalian para ex-santri yang belum mau ‘turun gunung’ mengamalkan ilmu di media sosial karena gak begitu aktif internetan. Kalian pasti masih sibuk mengamalkan ilmu agama di lingkungan nyata yang lebih membumi daripada lingkungan media sosial yang semu dan penuh anonimitas. Biarlah urusan jamaah fesbukiyah dan twiteriyah menjadi tanggung jawab ustadz akun-akunan.

Saya tidak jadi menggugat kalian kalau begitu! Saya lanjutkan saja belajar bab Thaharoh (bersuci) di gugel.




Tidak ada komentar: