Senin, 17 November 2014

Tokyo: Sebuah Catatan Perjalanan

Jepang, adalah negara pertama yang saya ingin kunjungi saat saya masih berseragam putih abu-abu. Komik kecil saya tentang Doraemon, Astro Boy, Kenzi, Kenshin Himuro, Detectif Conan, sampai Ultraman turut membawa imajinasi saya membayangkan 'indahnya' hiruk pikuk kota-kota di Jepang.
Wajar jika berkunjung ke Jepang menjadi mimpi masa anak-anak hingga remaja saya.

Berbagai upaya pernah saya coba untuk bisa berkunjung ke Jepang, mulai dari ikut lomba menulis artikel tentang Jepang yang hadiahnya berkunjung ke Jepang, sampai mencoba mencari beasiswa ke Jepang setelah lulus sekolah. Bahkan saking tertariknya dengan Jepang, saya pernah sampai belajar bahasa Jepang dengan cara otodidak, hasilnya? semuanya tidak sukses! he he he.

15 tahun setelah masa-masa itu akhirnya saya mendapatkan kesempatan berkunjung ke Jepang. Memang bukan untuk berwisata, melainkan untuk urusan pekerjaan. Tak apalah, yang penting bisa ke Jepang tanpa harus berlomba menulis artikel atau mencari-cari beasiswa lagi!

Kesempatan ke Jepang kali ini, saya memutuskan menggunakan maskapai Jap****** Airlines (JAL). Bukan karena tidak cinta tanah air sampai-sampai saya tidak memilih maskpai Gar*** Airlines  (GA), melainkan lebih karena mencari pengalaman menggunakan maskapai yang belum pernah saya naiki. Soal harga memang relatif, tergantung waktu pesan tiket. Saat itu saya harus membayar kurang lebih 11 juta rupiah untuk perjalanan PP Jakarta-Tokyo. Sedangkan maskapai GA mematok diharga 8.5 juta untuk periode yang sama. Tapi jika Anda beruntung dan pesan jauuuuuuh hari, harga pesawat Jakarta-Tokyo PP bisa dibayar hanya dengan 2.7 juta rupiah menggunakan maskapai ****sia Airlines.

Bagaimana kesan saya setelah menggunakan maskapai milik orang Jepang tersebut? Ternyata sama saja..he he he..tidak ada hal yang mengesankan dan tidak juga mengecewakan. Pelayanannya pun standar dengan pelayanan maskapai Indonesia. Soal cita rasa makanan di dalam pesawat juga tidak jauh berbeda. Mana ada sih makanan di pesawat yang benar-benar enak?hi hi hi.

Urusan visa seperti biasa tidak terlalu masalah karena saya menggunakan visa dinas dan paspor biru. Kabar baiknya, per 1 Desember 2014, berkunjung ke Jepang sudah dibebaskan dari visa. Gud Job pak Menlu!

Singkat kata, saya akhirnya mendarat di Narita jam 07 pagi waktu Jepang. 7 - 8 jam perjalanan lumayan membuat tulang punggung saya pegal serasa naik onta sambil tidur-tidur ayam. Anggap saja naik kereta Argo Bromo Jakarta ke Jogja tanpa berhenti!

Suhu udara di Jepang saat itu (awal November) lumayan sejuk berkisar di 11-19 derajat celcius. Urusan cuaca menjadi perhatian khusus saya sebelum ke luar negeri. Jangan sampai salah kostum lagi seperti ketika saya ke Perancis atau ke Geneva. Memantau perakiraan cuaca di internet hukumnya menjadi wajib bagi traveller sebelum ke negara yang mempunyai 4 musim. di Jepang kali ini, karena cuaca yang sejuk, saya cukup membawa 2 Jaket yang tidak terlalu tebal.

Dari bandara Narita, untuk menuju hotel di Tokyo, pilihan transportasinya adalah Limousine Bus, Taxi atau Kereta Narita Express. Seberapa jauh bandara Narita dengan Kota Tokyo? sebagai ilustrasi, jika kita menggunakan taksi dari Bandara Narita ke Tokyo biayannya adalah sebesar 300000 yen atau sekita 3 juta lebih. Nah, berhubung kantong saya tidak sedalam kantong Kanguru, saya memilih menggunakan kereta Narita Express. Selain diskon tiket 30% untuk turis (dengan menunjukan paspor), naik kereta sepertinya lebih cepat. Biaya yang saya bayarkan hanya 1700 yen. Memang sedikit berat untuk mengangkat koper menaiki atau menuruni tangga stasiun, tapi bandingkan harganya jika kita menggunakan taksi!

Dengan kereta Narita Expres saya menuju stasiun Tokyo yang ditempuh kurang lebih 1 jam. Dari stasiun Tokyo saya membeli tiket Suica untuk berganti dengan kereta Metro (subway). Kereta saya berada di line Tozai dengan stasiun tujuan stasiun Kayabacho 10 menit. Dari stasiun Kayabacho saya keluar di gate 7 dan berjalan kurang lebih 50 meter menuju Fres* Inn. Saya memilih penginapan ini dengan 1 alasan saja yaitu karena murah. Soal kualitas biasa-biasa saja. Rata-rata hotel di Jepang sangat mahal jika dibandingkan hotel di negara-negara Asia lainnya. Untuk harga saya hanya perlu membayar 8300 yen untuk 8 malam atau kira-kira 850 ribu per malam (bisa untuk 2 orang).

Transportasi
Soal transportasi di kota Tokyo, pilihannya adalah bus, taxi, dan kereta. Untuk kereta sendiri terdapat kereta subway (metro) reguler dan express dan kereta JR. Untuk membayar biaya transportasi, kita bisa membeli kartu pra bayar Suica atau Pasmo. Kedua kartu tersebut bisa digunakan untuk semua moda transportasi dalam kota Tokyo. Tinggal kita isi ulang jika saldo sudah habis melalui mesin yang ada di setiap stasiun.

Untuk rute transportasi, biasanya kita perlu beradaptasi 1 sampai 2 hari baru memahami jalur-jalur tranportasi. Saya lebih memilih menggunakan kereta Metro, dengan alasan dekat dengan penginapan dan lebih informatif. Peta jalur kereta Metro bisa kita dapatkan di Bandara atau di Hotel. di hari ketiga saya sudah sangat terbiasa berkeliling Tokyo dengan berbekal peta jalur kereta Metro. Memilih menggunakan kereta Metro artinya kita harus siap berjalan kaki ratusan meter setiap kita pindah line di stasiun. di Jepang, berjalan 2-3 kilometer per hari itu sangat biasa!


Convenience Store dan Makanan
Jangan khawatir untuk urusan makanan atau keperluan sehari-hari di Jepang. Mini market di Tokyo tidak kalah banyaknya dengan minimarket di Jakarta. Jika di Jakarta ada Indomaret, Alfamart, Seven Eleven, atau Lawson. di Tokyo pun tidak jauh berbeda, disana mudah ditemukan minimarket seperti Family Mart, Lawson, ataupun Seven Eleven. Barang-barang yang dijual pun hampir sama, bahkan lebih lengkap.

Untuk orang Indonesia yang mencari makanan yang [sepertinya] halal, bisa juga ditemukan di mini market tersebut. Kita bisa memilih membeli Onigiri (sejenis nasi kepal yang dibentuk segitiga dengan dibungkus rumput laut) yang berisikan ikan Tuna atau Salmon seharga 200 yen atau 20 ribu rupiah. Jika kita tidak yakin dengan isinya, sebaiknya tanya ke penjaga mini market. Jika masih tidak yakin juga, kita bisa membeli roti isi butter dan kismis seharga 100 yen untuk 4 potong roti dalam 1 plastik (biasanya ditemukan di mini market Seven Eleven). Murah meriah dan rasanya sangat bisa diterima lidah orang Indonesia.

Jika sekedar kongkow bersantai, kita bisa juga mampir ke cafe-cafe Pronto yang merupakan cafe frenchise yang berada di sudut-sudut kota Tokyo. Untuk minum segelas Es Coklat, kita cukup membayar 300 Yen. Masih bisa diterima oleh kantong orang Indonesia seperti saya. :)

Untuk makan di rumah makan atau restoran di Tokyo, harganya terbilang relatif mahal. Dan yang pasti tidak ada jaminan halal. Meskipun makanan yang kita pilih adalah sea food. Karena menurut rekan saya yang kuliah di Jepang, hampir setiap Mie Ramen di Jepang mengandung minyak babi. Bahkan untuk kecap manis atau kecap asin di Jepang beberapa diantaranya menggunakan alkohol yang jelas tidak halal.

Alhasil saya hanya makan di rumah makan yang direkomendasikan teman muslim saya. Saya memutuskan makan sea food di rumah makan yang tidak jauh dari stasiun Ikebukoro. Rumah makan tersebut bisa kita temui kira-kira 200 meter dari pintu keluar selatan 20 (North Gate 20) stasiun Ikebukoro. Dari pintu keluar kita akan meliha 3 cabang jalan. Kita pilih jalan yang paling tengah. 100 meter kemudian terdapat lampu merah pertama, kita belok ke kanan kira-kira 10 meter dari lampu merah tersebut, di sisi  kiri jalan (toko kedua) ada warung/toko yang bergambar makanan-makanan seafood. Disitulah saya menkmati makanan Jepang dengan mewah, nikmat, dan murah. Kami berenam hanya perlu membayar 6000 yen untuk makanan beragam (nasi, kerang besar, kerang kecil, rahang ikan tuna, sayur terong, dan cumi besar). Semua menu diantar dalam keadaan fresh bahkan untuk kerang dalam keadaan hidup dan dibakar sendiri oleh pemesan. Saking murah dan nikmatnya, saya sampai 2 kali berkunjung ke 'warung' tersebut selama 9 hari di Jepang.

Makanan lain yang pernah saya makan dan rasanya cocok adalah makanan di rumah makan orang arab di mall Odaiba City yang berada di pulau odaiba. Odaiba Island adalah pulau buatan yang berada di wilayah Tokyo. Untuk mencapai pulau tersebut kita menggunakan kereta subway melintasi rainbow gate kira-kira 20-30 menit dari stasiun Tokyo.

Di lantai lima mall Odaiba City terdapat rumah makan dengan menu masakan Arab yang bernama Khasana. Makanan yang di jual bermacam-macam, ada gulai ayam, ayam bakar, roti cane, nasi kuning, dan lain-lain. Rasanya pun sangat bisa diterima karena bumbu-bumbunya menggunakan rempah-rempah ala masakan Padang. Harganya berkisar 1000 sampai 2000 yen per orang.

2 hal yang paling sulit ditemukan di jalanan kota Tokyo. Pertama adalah tempat sampah, dan yang kedua adalah orang gemuk. he he he. Entah kebetulan atau tidak, rata-rata orang Jepang tidak bertubuh tambun atau gemuk. Rata-rata tubuh mereka langsing. Mungkin karena faktor terbiasa jalan jauh yang membuat lemak tubuh lumer terbakar. Mungkin juga faktor gen kebanyakan orang Jepang. Tapi apapun itu, berjalan kaki jauh menjadi budaya yang baik untuk menjaga hidup sehat. Tentunya berjalan kaki tanpa harus menghisap asap kendaraan dan polusi dan terpapar sengatan matahari seperti di jalanan kota Jakarta. :)

Tapi jangan khawatir, jika kaki kita sedikit kelelahan karena tidak terbiasa berjalan, banyak juga jasa penawaran pijat di Tokyo dengan kisaran harga sebesar 3000- 4700 yen per 40 menitnya. Mahal memang!hi hi hi

Jalan-Jalan
Terus terang saya tidak membuat rencana jalan-jalan pada saat saya ke Tokyo. Fokus saya masih soal kerjaan yang harus tuntas di Tokyo. Sempat terlintas ide untuk jalan-jalan ke Disney Land di Tokyo, namun mengingat betapa inginnya anak saya suatu saat nanti bersama-sama ke Disney Land Tokyo, saya memutuskan tidak jadi ke Disney Land Tokyo.

Selama di Tokyo saya sempat berjalan ke beberapa tempat yang memang tidak pernah saya rencanakan. Pertama, saya masuk ke Madamme Tussaeds, sebuah museum patung lilin tokoh-tokoh terkenal seperti Mahatma Gandhi, Marlin Monroe, Madonna, David Beckham, Lionel Messi, dan puluhan tokoh-tokoh lainnya yang dibuat presisi dan mirip dengan aslinya. Biaya masuk ke museum ini pun tidak mahal, hanya 2000 yen. Lokasinya di mall Odaiba City sisi gedung belakang.

Tempat lainnya adalah Tokyo Tower. Saya mengunjunginya di malam hari selesai saya bekerja. Hiasan lampu pada malam hari membuat tower tersebut menjadi lebih indah di abadikan dalam kamera. Biaya masuk di Tokyo tower dibagi menjadi 2. Untuk ketinggian pertama kita hanya perlu membayar 1700 yen dan untuk sampai diketinggian berikutnya kita perlu membeli tiket masuk lagi seharga 700 yen. Tidak terlalu mahal menurut saya. Namun tidak juga terlalu istimewa untuk naik ke atasnya. Tidak beda jauh dengan kita berada di gedung tinggi, karena tidak ada area terbuka di Tokyo Tower sebagaimana di Menara Eiffel atau di Seoul Tower.

Selain ke Museum dan Tokyo Tower, saya juga sempat berkunjung ke kuil Sensoji di dekat stasiun Asakusa. Keluar dari gate 3 stasiun Asakusa dan berjalan 50 meter kita sudah sampai di kuil tersebut. Saya tidak terlalu tertarik dengan kuil sebetulnya, tapi di depan kuil Sensoji, banyak penjual souvenir dan oleh-oleh unik khas Jepang. Harganya pun cukup bersahabat. Tidak terlalu mahal menurut saya, meskipun memang bukan yang termurah.

Selain ke 3 tempat tersebut, tanpa ada rencana (lagi) saya diajak teman-teman ke Gunung Fuji. Pertama-tama, kami meminta informasi perjalanan ke Gunung Fuji melalui pusat informasi di Stasiun Tokyo (JR Pass Information Service). Layanan tersebut menjelaskan transportasi yang akan digunakan sampai dengan ke Gunung Fuji. Kita akan berpindah 2 kereta dan 1 bus sebelum sampai di stasiun 5 Gunung Fuji (ketinggian 3700 meter). Di pusat informasi tersebut kita membeli tiket terusan dan akan dijelaskan bagaimana menggunakan tiket tersebut. Harganya kalau tidak salah sekitar 3000-4000 yen untuk pulang pergi.

Kereta menuju Gunung Fuji berangkat dari stasiun Shinjuku yang waktu tempuhnya dari Stasiun Tokyo kira-kira 30 menit. Saya sarankan agar bisa ke Gunung Fuji pulang pergi dalam sehari, sebaiknya menggunakan kereta jam 6 atau jam 7 pagi dari stasin Shinjuku.

Dari stasiun Shinjuku, kita menuju stasiun Otsuki kira-kira 1 jam perjalanan. Dilanjutkan pindah ke kereta commuter menuju stasiun Kawaguchiko selama 1 jam perjalanan, kemudian disambung dengan bus menuju stasiun 5 Gunung Fuji selama 1 jam. Jadi total waktu yang dibutuhkan kurang lebih 3 jam. Sebaiknya sebelum memutuskan ke Gunung Fuji, pastikan cuaca cerah dan tidak mendung, karena jika cuaca cerah kita bisa melihat keindahan gunung Fuji beserta saljunya dari stasiun 5.

Cuaca di stasiun 5 Gunung Fuji sangat dingin. Anginnya saja cukup untuk membuat tubuh kita terasa kaku. Nah, karena saya tidak mempersiapkan rencana ke Gunung Fuji, alhasil saya terpaksa salah kostum lagi. Dengan 1 jaket tanpa sarung tangan dan tutup kepala, saya seperti daging beku yang siap di santap di Gunung Fuji. Hidung saya mimisan, bibir saya pecah, dan mata sakit karena dinginnya angin dengan suhu yang saya perkirakan 1 derajat celcius (prediksi berdasarkan pengalaman saya dengan dinginnya kota Geneva).

Jangan anda bayangkan suasana ketinggian 3700 meter Gunung Fuji seperti di gunung-gunung yang ada di Indonesia. Di stasiun 5 ketinggian 3700 meter, kita akan menemukan beberapa toko swalayan besar yang menjual bermacam-macam souvenir Gunung Fuji dari magnet, coklat, hiasan tradisional, kaos, dll. Artinya?saatnya saya menambah belanjaan!ha ha ha

Setelah foto-foto selama 45 menit dan menimati makan mie campur sejenis bakwan di lantai 2 swalayan (yang kata teman saya halal untuk menu tertentu), kita langsung kembali pulang ke Tokyo dengan rute yang sama.

Belanja Oleh-Oleh
Masih soal urusan oleh-oleh, di Tokyo banyak sekali yang bisa di beli untuk dijadikan sebagai cinderamata atau oleh-oleh bagi sanak famili di kampung Indonesia. Bisa makanan, bisa hiasan, bisa payung, barang elektronik, atau mainan anak.

Untuk membawa oleh-oleh makanan, bagi muslim pastikan makanan yang dibawa adalah makanan halal. Beberapa makanan terindikasikan tidak halal, baiknya lakukan penelusuran di google. Saya memilih untuk membeli makanan seperti Kit Katt rasa green tea dan strawbery, Dorayaki, Tokyo Banana Pie (karena yang bukan pie terindikasi tidak halal), berbagai macam biskuit, dan snack Pocky beraneka rasa.

Untuk souvenir, seperti biasa saya karena saya mengkoleksi magnet kulkas dari berbagai negara, maka magnet menjadi prioritas untuk dibeli. Tentu magnet dengan kualitas yang cukup bagus. Selain magnet kulkas , saya juga membeli payung, tas, head phone, dan banyak mainan.

Untuk mainan anak, di Tokyo harganya sangat murah di banding di Jakarta. Prediksi saya harganya 30-50% lebih murah di Tokyo. Saya membeli mainan robot Gundam yang dirakit ukuran kecil seharga 300 yen saja atau 30 ribu perak, dan ukuran sedang seharga 1170 atau 120 ribu perak saja. Jika saya beli mainan robot Gundam tersebut di Jakarta, harganya bisa naik 2 atau 3 kali lipat dengan kualitas yang sama. Trust me!

Selain mainan robot, saya juga membeli lego, figurin kura-kura ninja, miniatur mobil Tomy Takara edisi Jepang. Dan semuanya lebih murah di banding jika saya beli di Jakarta. Tak lupa saya membeli hiasan tradisional jepang seperti sumpit, kipas, dll yang menjadi ciri khas Jepang.

Untuk souvenir, kebanyakan saya membelinya di depan kuil Sansoji di pintu keluar 3 stasiun Asakusa. Untuk elektronik dan mainan anak, saya membelinya di mall di kawasan Akihabara. Dan jika mau lebih murah lagi bisa juga kite membelinya di mall atau toko "be camera" yang berada di atas stasiun Yurakucho sebelah Tokyo International Forum. Berdasarkan harga yang saya bandingkan dengan gaya emak-emak di pasar, kesimpulannya: toko be camera menjual elektronik, payung, mainan, jam, kamera, headphone yang lebih murah ketimbang di kawasan Akihabara. :)

Telekomunikasi
Untuk urusan telekomunikasi ke indonesia, seperti biasa saya mengandalkan layanan Skype yang saya install ke dalam smart phone saya. Tapi untuk bisa berkomunikasi secara cepat dengan rekan-rekan selama di Jepang, saya memutuskan membeli paket data internet 1 GB untuk 14 hari seharga 4000 yen melalui operator docomo untuk produk bmobile. Harga yang tidak murah, namun karena dibutuhkan, menjadi sangat bermanfaat. Saya tidak perlu lagi mencari area free wifi untuk sekedar mengirim pesan whatsapp atau menelpon menggunakan skype. Soal kecepatan internet, layanan bmobile biasa saja. Hanya 1 Mbps! Berbeda jika kita menggunakan wifi gratisan yang kecepatannya mencapai 15 Mbps. Alasan saya menggunakan bmobile adalah praktis dan bisa langsung digunakan. Hanya perlu setting sedikit APN hp kita dengan petunjuk yang jelas di kemasan, langsung bisa dipakai internetan, meskipun tidak bisa dipakai sebagai nomor seluler lokal. Saya membelinya melalui internet dengan menggunakan kartu kredit. Kartu bmobile saya minta dikirim ke hotel 1 hari sebelum saya tiba di Jepang.

Kesimpulan saya, berkunjung ke Jepang tidak semahal yang dibayangkan. Yang mahal di Jepang menurut saya adalah biaya menginap dan makan besar di restoran. yang lainnya bisa dibilang relatif terjangkau, kecuali kita tergiur untuk membeli brand-brand internasional yang kita lihat sepanjang jalanan Ginza. Dijamin sangat mahal!


Demikian cerita singkat saya tentang Tokyo dan Jepang. Semoga bermanfaat kawans travellers!


Tidak ada komentar: