Minggu, 29 Juni 2014

Saya dan Cyber Law

"Cyber Law is not my expertise but that's mypassionate…" 

Tulisan ini tidak penting untuk dibaca, bahkan sangat tidak penting. Lha, isinya cuma cerita muter-muter tentang asal muasal passion saya di bidang cyberlaw. Tidak ada informasi ilmiah atau berharga..hanya berisi repositori sejarah hidup saya yang bahkan mungkin tidak ada nilainya… :D

Tulisan ini hanya sepenggal cerita bagaimana saya pada akhirnya menjadi bagian dari penikmat dan penjelajah cyber law di cyberspace.

Entah kebetulan atau tidak…. 
Sejak remaja saya sangat berminat untuk berlama-lama bercengkrama dengan komputer. Sempat berpikir bahwa saya bercita-cita menjadi "ahli komputer" saat itu. Di benak saya saat remaja, seorang "ahli komputer" adalah seorang yang mahir dalam meng-install dan memperbaiki hardware dan software. he he he..Maklum ditahun itu (kira-kira tahun 1994 / 1995), komputer di pesantren tempat saya nyantri adalah barang canggih dan mahal. Hanya ada dua komputer yang bisa diakses dan disewa santri di koperasi pesantren. Saya yang saat itu kelas 2 madrasah tsanawiyah (setingkat SMP), lebih senang berlama-lama di depan komputer untuk belajar program word star versi 6 (program mengetik) atau lotus (program untuk menyajikan worksheet) daripada mengikuti kegiatan pelajaran ketrampilan madrasah seperti membuat kerajinan tangan atau membuat telur asin. :)

Saya belajar komputer pertama kali dari guru fisika saya ustadz Nambih di madrasah tsanawiyah yang kebetulan beliau pada saat itu adalah mahasiswa Fakultas Pertanian di UGM. Setiap saya dan teman-teman silaturahmi ke rumah beliau, saya selalu diajak untuk mencoba komputer beliau yang memang sengaja beliau beli untuk mengerjakan tugas akhir. Sejak saat itulah saya rela menyisihkan uang jajan saya yang sangat pas-pasan (bahkan kurang) untuk sekedar menyewa komputer 1 jam di koperasi pesantren. hi hi  hi..

Entah kebetulan atau tidak…
Saya diterima di madarasah aliyah (setingkat SMA) yang lokasinya berada di samping kampus UGM, tepatnya di jalan C. Simanjuntak Jogjakarta. Kira-kira tahun 1997/1998 di depan sekolah saya tiba-tiba didirikan sebuah "Warung Internet". Mungkin itu warnet pertama kali yang ada di Kota Jogja (mungkin).

Bayangan saya namanya warung itu biasanya menjual makanan, apalagi warung internet tersebut berada disamping persis warung makan tempat langganan saya makan siang. Yang membedakan adalah ada kata "internet" nya dalam benak saya. Internet adalag kosakata baru buat saya saat itu. Sesekali melongok ke dalam ternyata saya baru sadar kalau yang dimaksud warung internet itu adalah sejenis persewaan komputer yang bisa terhubung ke dunia global. :D

Saya yang saat itu sedang euforia karena baru saja bisa program microsoft word '97 langsung mencoba warnet tersebut. Ketika masuk warnet saya setengah kaget karena beberapa komputer yang disewa orang aktifitasnya bukan untuk mengetik tulisan menggunakan microsoft word 97..banyak tampilan-tampilan asing yang saya lihat. Saya pikir ada program terbaru lagi yang saya belum saya ketahui, ternyata setelah dijelaskan sang penjaga warnet, mereka itu rupanya sedang menjelajah (browsing) halaman web site. Berberapa diantaranya terlihat saling kirim-kiriman pesan (yang kemudian saya kenal dengan istilah chatting) dengan menggunakan MSN Messenger dan MIRC. Takjub buat saya, kok bisa-bisanya orang saling kirim dan balas pesan secara langsung tanpa harus menunggu beberapa hari sebagaimana saya mengirim surat ke emak di kampung melalui kantor pos depan pesantren.wow!

Setelah berguru pada sang penjaga warnet di hari itu, saya akhirnya bisa membuat email pertama saya di jagat internet. "Sang guru" juga memperkenalkan saya pertama kalinya dengan istilah password, browsing, chatting, dan istilah-istilah lain yang saya catat dalam selembar kertas kosong. 

Email pertama saya tersebut masih saya simpan dan saya ingat password-nya sampai saat ini. Mungkin suatu saat nanti dimasa depan, email saya akan menjadi fosil yang berharga untuk anak cucu kelak..uhuk..uhuk..uhuk…(batuk serasa saya sudah sangat tua).. :D

Saya anggap fosil berharga karena email saya itu bercerita tentang siapa saja orang yang saya kenal pertama di cyberspace, apa saja isi-isi percakapan masa remaja saya di inbox email, dan tentu saja email-email cinta masa remaja hingga masa kuliah yang menyimpan sejarah warna hidup saya lengkap dengan haru birunya bak sinetron seribu episode milik Punjabi..ha ha ha ha..

Entah kebetulan atau tidak…
Saya punya hobi 'ngetak-ngetik' atau menulis menggunakan komputer. Bahkan sejak di madrasah aliyah, saya sudah rajin membuat karya tulis dan dilombakan ditingkat provinsi atau nasional atau bahkan sekedar menulis cerita yang kemudian saya bacakan di kelas pelajaran bahasa Indonesia. Hobi saya 'ngetak-ngetik' berlanjut hingga kuliah. Saya juga senang mengikutsertakan karya tulis saya di lomba-lomba karya tulis. Mengikutsertakan karya tulisan saya di kompetisi-kompetisi sebetulnya bukan karena saya berminat menjadi penulis, tapi jujur saja lebih karena berharap mendapatkan hadiah uang yang bisa saya gunakan untuk tambahan jajan atau makan sehari-hari sebagai anak kos di masa kuliah..Syukur-syukur sisanya bisa beli barang yang saya inginkan..he he he

Nah, di tahun 2002 lah pertama kalinya saya 'berkenalan' dengan cyber law. Ketika itu saya masih menjadi mahasiswa hukum. Saat itu saya sedang asik mencari judul untuk membuat karya tulis yang akan saya dan rekan saya lombakan di Solo. Saat itulah secara tidak sengaja mesin pencari g**gle membantu saya menemukan sebuah link berita dari media asing yang membahas masalah cyber crime, tepatnya masalah carding (pencurian nomor-nomor kartu kredit) yang saat itu menjadi isu utama di beberapa media asing. Berita itulah yang akhirnya menginspirasi saya untuk menulis karya ilmiah pertama berjudul cyber crime

Sayangnya langkah saya untuk memilih judul cyber crime tidaklah mudah. Ternyata sulit buat saya dan rekan saya mencari dosen pembimbing karya ilmiah yang mau menerima judul tersebut. Maklum saja di tahun itu, kejahatan berteknologi tidak banyak terjadi..Referensinya juga sangat-sangat terbatas..sehebat-hebatnya kejahatan saat itu yang dikenal adalah computer crime..Selain itu belum ada aturan khusus yang mengatur masalah cyber crime seperti saat ini..satu-satunya Undang-undang yang berkaitan dengan cyber crime adalah Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Itupun hanya yang terkait dengan peretasan (hacking) pada jaringan telekomunikasi. Tidak heran jika ada dosen kami baru mendengar istilah cyber crime ketika kami sebutkan. .peace bu dosen!! :)

Setelah berdiskusi panjang dikali lebar dikalikan tinggi dengan 'calon pembimbing' karya tulis kami, akhirnya judul kami-pun disetujui dibawah bimbingan Prof. Nyoman Serikat PJS (saat itu belum menjadi guru besar). Dan saya bersyukur, karya ilmiah pertama yang membahas cyber crime itulah menjadi salah satu juara dalam sebuah kompetisi karya ilimiah yang saya ikuti.

Sejak itulah, semua informasi yang berkaitan dengan cyber crime atau cyber law saya makan habis di otak saya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk memilih cyber crime sebagai judul skripsi saya di tahun 2003. Saya bahkan mengikutsertakan karya ilmiah 'calon skripsi' saya pada kompetisi karya tulis ilmiah Nasional di Jakarta dan mengantarkan saya sebagai salah satu juara. Dari kompetisi itulah saya mengenal salah seorang Juri lomba yang mengajak saya bergabung pada sebuah Law Firm terkenal di Jakarta. Meskipun akhirnya saya tidak bergabung dengan Law Firm tersebut, namun semangat kompetisi telah membawa saya berlabuh di tanah orang kaya Jakarta.

Entah kebetulan atau tidak…
Tahun 2006 saya bergabung menjadi pelayan masyarakat di salah satu instansi pemerintah di Jakarta yang salah satu tanggung jawabnya mengatur jagat cyber di Indonesia. Padahal 3 tahun setelah saya lulus, saya sudah tidak pernah berurusan lagi dengan cyberlaw atau tetek bengeknya. 3 tahun saya dipisahkan dengan passion saya karena profesi saya sebagai konsultan corporate governance saat itu memang tidak berkaitan sama sekali dengan 'cyber-cyber-an'. Begitu juga ketika saya bergabung di salah satu Bank swasta nasional di tahun 2005 yang jelas-jelas urusannya jauh dari dunia cyber. 3 tahun berpisah dengan passion saya dan berinteraksi dengan ilmu lain membuat saya sadar, ilmu saya masih sangat dangkal sedangkal susutnya sungai ciliwung samping kosan saya di Jakarta Timur. 


Meskipun saya menjadi pelayan masyarakat di salah satu instansi pemerintah yang salah satu tanggung jawabnya mengatur jagat cyber, saya tidak langsung mengurusi bidang cyber. Saya bekerja di bidang lain terlebih dahulu sebelum akhirnya pada tahun 2008 sedikit demi sedikit saya mulai berurusan dengan cyber law hingga saat ini. Saya bersyukur di tahun 2011 saya bisa mendirikan Komunitas Cyber Law Indonesia atau Indonesia Cyber Law Community (ICLC) yang tujuannya adalah menjadi mitra masyarakat dalam memberikan pemahaman tentang hukum cyber dan teknologi informasi dalam prespektif Indonesia. Yang membuat saya senang adalah komunitas ini juga telah memberikan banyak layanan sosial tanpa meminta bayaran untuk mensosialisasikan penggunaan internet yang aman bagi masyarakat di samping membantu masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan dan kasus-kasus yang berkaitan dengan cyberspace dan teknologi informasi.

Pada akhirnya cita-cita remaja saya untuk menjadi "ahli komputer" tidak pernah terwujud..mungkin  itu juga karena saya tidak pernah bisa menjadi orang yang terlalu serius..Terlalu serius hanya membuat otak dan hati saya seperti kompor panas, terus menyala memanaskan wajan. Padahal yang saya butuhkan adalah kesejukan hati, menikmati hidup dengan tenang, santai, dan menciptakan kesuksesan versi saya sendiri.

"Kesuksesan saya adalah sederhana, kesuksesan saya adalah bukan tentang materi, bukan tentang jabatan, bukan tentang popularitas, kesuksesan saya adalah jika bisa membantu dan bermanfaat bagi banyak orang..."

Jakarta, 2 Ramadhan 1435 Hijriyah / 30 Juni 2014. 


Tidak ada komentar: