Minggu, 22 Juni 2014

Cyberbullying Anak: Perilaku yang Harus di Waspadai!


Suka tidak suka, di masa mendatang anak kita akan terbiasa dengan internet.  Internet bukan lagi kebutuhan sekunder dan akan menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang, termasuk bagi anak-anak kita.

Internet menjanjikan samudera pengetahuan yang bisa dimanfaatkan sebanyak anak mau. Internet juga menjanjikan surga hiburan yang selalu terlihat mengesankan bagi anak. Internet telah membuka cakrawala bagi anak untuk berkomunikasi secara bebas dengan siapa saja dan kapan saja. Menjelajah informasi dalam internet ibarat meminum air secara langsung melalui pipa raksasa. Informasi mengalir sedemikian deras tanpa bisa dibendung dengan penyaring apapun.

Interaksi anak dengan warga cyber dunia, menjadikan anak merasa memiliki lingkungan baru. Anak dengan sendirinya menduplikasi perilaku para pengguna internet dengan cara dan gaya yang sejenis. Tentu tidak hanya perilaku positif saja yang ditiru, melainkan juga perilaku-perilaku negatif. Salah satu perilaku negatif yang sering dicontoh anak dalam penggunaan media cyber adalah bullying.

Bullying dalam media cyber (seperti melalui internet, telepon seluler, layanan pesan instan/chatting) berbeda dengan bullying pada dunia ‘riil’. Pada dunia yang ‘riil’ bullying sangat tergantung dengan tempat dan waktu. Misalkan bully dilakukan pada saat anak berkumpul di lingkungan sekolah atau hanya pada saat-saat tertentu saja. Sedangkan bullying yang menggunakan media cyber bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.

Secara prinsip, perbedaan bullying di dunia ‘riil’ dan di dunia cyber adalah sebagai berikut:

Perbedaan
Bullying di dunia ‘riil’
Bullying di dunia cyber
Sifat kejadian
Face to face
Dapat terjadi kapan saja dalam kurun waktu tak terbatas
Kesempatan menghindar
Anak memiliki kesempatan untuk menghindar dengan mudah
Sulit bagi anak untuk menghindar sepanjang anak menggunakan media komunikasi modern.
Seberapa banyak bully diketahui oleh anak lain
Lebih sedikit orang-orang yang melihat pada saat bully terjadi pada sang anak
Cyberbullying bisa diketahui banyak orang dan dimungkinkan untuk di share secara luas ke anak lain
Identitas pelaku bullying
Pelaku bullying teridentifikasi dengan jelas dan pasti
Pelaku cyberbullying bisa saja tidak teridentifikasi (anonymous)
Reaksi anak sebagai korban
Reaksi anak secara spontan dapat dilihat dengan jelas sehingga empati dapat diberikan
Terkadang reaksi anak sebagai korban bullying tidak terlihat bahkan seringkali disembunyikan
Tempat kejadian
Terbatas pada tempat-tempat tertentu saja dimana anak menjadi obyek bullying
Tidak ada batasan geografis, cyberbullying bisa dilakukan dimana saja oleh pelaku





Berikut contoh dialog yang menggambarkan perilaku cyberbullying anak:

Anak1
:
“Muncul juga nih si bebek di group, nih anak bencong bgt kemarin pake baju pink ke acara sekolah..ha ha ha”
Anak2
:
“Sudah mandi belum bek? Lo kayaknya gk prnh mandi..Ha ha ha”
Anak3
:
“Itu baju pink nyolong dari mana bek? Hi hi hi..”

Dialog diatas adalah contoh bagaimana anak-anak kita yang mungkin secara tidak sadar mempraktikan cyberbullying dalam sebuah komunikasi kelompok. Kebiasaan mencela dan menyerang perilaku pada sebuah komunikasi kelompok, membuat suasana komunikasi seakan menjadi hidup dan menarik. Anak sebagai pelaku cenderung mengabaikan atau tidak memahami kondisi psikologis anak yang menjadi korban.

Secara sederhananya cyberbullying anak adalah tindakan di mana seseorang atau beberapa orang/kelompok mencoba untuk menyakiti atau mengontrol anak lain dengan cara-cara tertentu melalui komunikasi media cyber. Cara-cara tertentu yang dimaksud, bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Contoh cara langsung cyberbullying adalah mengancam, atau menjelekkan anak dalam sebuah forum, jejaring sosial, atau group komunikasi.  Sementara cara tidak langsung cyberbullying sendiri adalah menghasut, mendiamkan, atau mengucilkan anak lain.

Beberapa pakar komunikasi mengatakan bahwa korban cyberbullying cenderung terjadi pada anak-anak dalam usia sekolah. Anak usia sekolah menurut pakar psikologi memiliki karakter egosentrisme (segala sesuatu terpusat pada dirinya) yang masih dominan. Sehingga ketika suatu kejadian menimpa dirinya, anak yang menjadi korban masih menganggap bahwa semua itu adalah karena dirinya.

Tujuan anak melakukan cyberbullying terkadang sepele. Umumnya dilakukan dalam konteks bergurau, namun pada akhirnya melewati batas dan berujung pada upaya untuk menekan atau menjatuhkan anak. Terlebih jika anak sebagai korban memiliki perilaku atau perbuatan yang dianggap tidak ‘biasa’ dilingkungan bermainnya atau lingkungan komunikasinya.

Peran orang tua dalam mencegah cyberbullying pada anak
Dengan memahami cyberbullying, orang tua seharusnya bisa lebih intensif  mengajarkan kepada anak cara-cara berkomunikasi yang santun dan saling menghormati dalam media cyber.

Pembatasan komunikasi anak  untuk menggunakan media cyber tentu tidak mungkin dilakukan. Mengingat media cyber disamping memiliki efek negatif juga memilki banyak kelebihan diantaranya adalah mempermudah komunikasi positif yang digunakan anak untuk berinteraksi atau bersosialisasi dengan anak lainnya.

Mengajarkan kesantunan berkomunikasi, selain pada substansi pembicaraan, bisa dilihat juga dari bagaimana anak memilih bahasa lisan maupun tulisan yang digunakan dalam berkomunikasi. Anak cenderung menggunakan pilihan kata bahasa dalam berkomunikasi sesuai dengan contoh yang ditampilkan oleh lingkungan terdekatnya.

Orang tua harus memastikan bahwa anaknya tidak menjadi korban dari bullying teman-temannya. Caranya dengan membiasakan anak untuk selalu merasa nyaman terbuka atau bercerita tentang lingkungan permainannya.


“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu..

(Ali bin Abi Tholib R.A).

Tidak ada komentar: