Senin, 14 November 2011

Menara Besi Tua Kota Paris..


Paris, Februari 2011

Menara Besi Tua
Bayangan Menara Eiffel di benak saya dahulu hanya sebuah menara besi tua dengan ukuran jumbo. Tak lebih, tak istimewa, bahkan tak menarik minat. Namun siapa sangka, Menara Eifell yang ternyata melegenda itu bisa saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Disitulah simbol kota Paris yang sering saya saksikan di banyak film atau sering saya lihat di foto-foto sahabat saya yang melanjutkan studi di eropa.

Kota Paris kebetulan menjadi kota pertama yang pernah saya kunjungi di dataran tanah eropa. Terbayangpun tidak untuk bisa sampai ke eropa. Maklum, emak di kampung paling jauh hanya mengajak saya ke kota kabupaten sambil nonton bioskop dengan menggunakan angkutan kota di tahun sembilan puluhan.:)  Di masa kecil saya, kebanggaan adalah bisa liburan ke kota Jogjakarta dengan menggunakan kereta api. Wajar jika tidak ada dalam keinginan saya untuk bisa sampai ke negeri eropa. Keinginan ke luar negeri orang-orang di kampung saya hanya satu yaitu pergi haji ke Arab Saudi. Sayapun berpikir demikian ketika itu! :D

Tak jadi soal jika akhirnya saya berubah pikiran. Pikiran saya tentang "luar negeri" berubah seiring perjalanan pendidikan saya di beberapa kota. Ketika masih sekolah Tsanawiyah (setingkat SMP), saya tiba-tiba berkeinginan dan bertekad bisa pergi ke luar negeri. Negara manapun! Penyebabnya adalah ketertarikan saya atas cerita seorang guru saya tentang bagaimana dia tinggal dan melanjutkan studi di negeri orang. Seru juga pengalaman sang guru dalam hati saya.

Tapi saya sadar, kemampuan saya tidak sehebat guru saya. Kemampuan berbahasa asing sayapun pas-pasan. Keinginan saya jadi realistis; tidak perlu harus merasakan tinggal dan studi di luar negeri, cukup dengan mengunjungi negara lain jadi keinginan saya saat itu. Tujuannya hanya satu, merasakan cara hidup bangsa lain di negara yang berbeda!

Benar sebuah nasihat tua, bahwa jika ada kemauan disitu pasti ada jalan. Tuhan senantiasa mendengar dan mengabulkan doa dan keinginan hambanya yang mau berusaha. Dalam beberapa tahun terakhir, saya dapatkan beberapa kesempatan untuk mengunjungi beberapa negara berbeda.Alhamdulilah!

Berikut saya tuliskan sedikit pengalaman saya selama mengunjungi kota Paris, Perancis. Tujuan dituliskannya  pengalaman perjalanan ini tak lebih sekedar catatan pribadi saya untuk mempermudah saya mengingat tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Syukur-syukur tentunya dapat memberi manfaat buat orang lain yang sedang atau akan melakukan kunjungan ke kota Paris.

Pengurusan Visa
Kesempatan untuk mengunjungi Perancis saya dapatkan dari atasan saya. Kebetulan ada undangan pertemuan yang harus dihadiri oleh perwakilan beberapa negara di kota Paris. Tawaran pertama langsung ditujukan kepada saya dan rekan kerja saya. Langsung spontan kami jawab siap! Keesokan harinya kami menyiapkan semua dokumen untuk pengurusan visa di kedutaan Perancis yang diorganisir oleh sebuah lembaga yang bernama TLS contact. Karena untuk keperluan dinas, visa bisa kami peroleh kurang dari 2 minggu dan tanpa dipungut biaya apapun. Namun saya sangat merekomendasikan sebaiknya pengurusan visa ke Perancis dilakukan 1,5 bulan sebelum keberangkatan. Proses awal yang harus dilakukan adalah menjadwalkan waktu kedatangan ke TLS Contact. Penjadwalan dilakukan secara online melalui website resmi TLS Contact. Pada saat jadwal pertemuan ke TLS Contact sudah didapatkan setelah mendaftar online, pastikan semua dokumen yang persyaratkan disiapkan untuk dibawa pada saat datang ke kantor TLS Contact di kawasan thamrin. Jika semua dokumen sudah dipersiapkan lebih awal, maka kemungkinan visa diperoleh bisa sangat cepat dan tepat sesuai jadwal yang diperjanjikan. Seberapa ribet kah? Semua tergantung kesiapan dokumen dan estimasi waktu yang mencukupi. Jika dokumen telah siap dan waktu juga mencukupi, maka semuanya dipastikan mudah!

Menuju Paris
Saya memutuskan untuk memilih Emir**es sebagai maskapai yang akan mengantar saya ke bandara Charles De Gaule (CDG) Paris. Pertimbangan saya, maskapai tersebut menurut pendapat subyektif saya sangat profesional dalam hal pelayanan dan jaminan makanan yang halal bagi kami kaum muslim. Soal harga, masih sesuai dengan budget yang kami siapkan. Meskipun bukan yang termurah diantara beberapa maskapai lain.

Saya dan rekan saya tiba di CDG sore hari waktu Perancis setelah sebelumnya transit di kota Dubai. Perjalanan yang lebih dari 14 jam diluar waktu transit membuat kami sangat jenuh. Ditambah lagi perubahan cuaca ekstrem yang sangat dingin membuat badan saya sulit untuk langsung beradaptasi (cuaca saat itu 3 derajat celcius). Tak apalah, pikir saya sambil menggigil. Yang terpenting saya sampai dangan selamat! :)

Sesampai di bandara CDG, Paris, tempat utama yang langsung saya tuju adalah pusat layanan informasi bagi penumpang. Peta kota Paris yang disediakan gratis di counter informasi plus rute transportasi kota Paris menjadi sesuatu yang wajib saya dapatkan sebelum saya menyusuri kota Paris.

Berbekal peta dan rute transportasi, saya langsung mencari terminal transportasi Metro (kereta) di area bandara. Setelah terminal Metro saya temukan, saya mencoba mencari tahu bagaimana  saya bisa membeli tiket kereta tersebut. Mulanya saya bingung dan ragu, namun setelah memperhatikan orang-orang sekitar, saya jadi tahu kalau ada 2 opsi untuk membeli tiket Metro, yakni dengan mesin atau dengan cara manual ke counter tiket di bandara. Akhirnya saya memilih menggunakan cara manual yaitu dengan menukar uang euro saya dengan selembar tiket. Maklum, menggunakan mesin tiket masih belum familiar buat saya saat itu. :)

Bersambung......




Tidak ada komentar: